Search

Rabu, 02 Desember 2009

Diposting oleh santri kuliah

Macam-macam Asbab An-Nuzul
1. Dilihat dari sudut pandang redaksi-redaksi yang digunakan dalam riwayat asbabun nuzul
Ada dua redaksi yang digunakan dalam periwayatan Asbab An-Nuzul , yaitu shari ( visionable/jelas) dan muhtamilah ( impossible/kemungkinan) redaksi rasul yaitu yang sudah jelas menunjukkan asbabun nuzul, dan tidak mungkin pula menunjukkan yang lainnya. Redaksi yang digunakan termasuk sharih bila yang dipeergunakan kata-kata:
سبب النرول هده الا ية هدا
Artinya : sebab turunnya ayat ini adalah
Atau ia menggunakan kata “maka” (fatabiqiyah) setelah ia mengatakan peristiwa tertentu. Misalnya ia mengatakan:
حدث هدا----------- فنرلت الا ية---------
Artinya :
“telah terjadi – maka turunlah ayat ز"
سئل رسوالله عن كدا-------- فنرلت الا ية---------
Artinya :
Rasulullah pernah ditanya tentang …..maka turunlah ayat …………….
Contoh riwayat asbabun nuzul yang menggunakan redaksi sarih adalah sebuah peristiwa yang dibawa oleh jabir bahwa orang-orang yahudi berkata .” apabila seorang suami mendatangi “qubul” istrinya dari belakang anak yang lahir akan juling.” Maka turunlah ayat :
نسا ءكم حرث لكم فاءتو حرثكم انى شئتم
Artunya :
Istri-istrimu adalah seperti tempat kamu bercocok tanam maka datangilah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Q.S, al Baqarah:223).
Adapun redaksi yang muhtamilah bila perawi mengatakan:
نرلت هده الا ية في كدا-----------
Artinya:
Ayat ini turun berkenaan dengan……….”
Atau perawi mengatakan ;
احسب هده الاية نرلت في كدا------------
“ saya kira ayat ini turun berkenann dengan…”
Atau
ما احسب هده الاية نرلت الا في كدا------------





2. Dilihat dari sudut pandang berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat atau atau berbilangan ayat untuk Asbab An-Nuzul
a. Berbilangnya Asbab An-Nuzul untuk satu ayat ( Ta’ddud A- Sabab Wa Nazil Al-Wahid)
pada kenyataannya tidak setiao ayat memiliki Asbab An-Nuzul dalam satu versi, ada kalanya satu ayat memiliki beberapa riwayat versi Asbab An-Nuzul . tentu saja hal itu tidak menjadi masalah jika bila antara riwayat-riwayat itu tidak mengandung kontradiksi . bentuk variasi terkadang dalam bentuk redaksi dan terkadang dalam bentuk kwalita.untuk mengatasi variasi riwayat Asbab An-Nuzul dalam suatu ayat dari sisi redaksi para ulama mengemukakan cara-cara berikut.
1, Tidak Mempermaslahkannya
Cara ini ditempuh bila variasi Asbab An-Nuzul menggunakan redaksi muhtamilah ( tidak pasti) misalnya satu versi menggunakan redaksi: ayat ini diturunkan berkenaan dengan…….” Dan versi lain menggunakan redaksi:” saya kira ayat ini diturunkan berkenaan dengan……”
Variasi asbab nuzul diatas tidak perlu dipermasalahkan karena yang dimak sud oleh sesetiap variasi itu adalah tafsir belaka dan bukan sebagai Asbab An-Nuzul. Ini berbeda jika ada indikasi yang jelas yang menunjukkan bahwa salah satunya memaksudkan Asbab An-Nuzul.
2. Mengambil versi yang menggunakan riwayat Asbab An-Nuzul yang menggunakan redaksi sarih
Cara ini digunakan bila salah satu versi riwayat Asbab An-Nuzul tidak menggunakan redaksi sarih ( pasti) misalnya riwayat Asbab An-Nuzul yang menceritakan kasusu seorang lelaki menggauli istrinya dari bagian belakang, mengenai kasusu ini naïf berkata, suatu hari aku membaca ayat “ ‘nisa’ukum hartsulakun lakum” ibnu umar kemudian berkata” tahukah engkau mengenai apa ayat ini diturubkan?” “tidak” jawabku ia melanjutkan ayat ini diturunkan berkanaan dengan menyetubuhi wanita dari arah belakang.” Sementara ibnu umar tidak menggunkan aredaksi yang sarih (pasti) dalam salah satu riwayat jabir dikatakan,” seotrang yahudi mengatakan bila seorang menyetubuhi istrinya dari belakang, amak yang lahir akan juling. Maka turublah ayat : “ ‘nisa’ukum hartsulakun lakum”
3.Mengambil versi riwayat yang sahih ( valid)
Cara ini digunkan apabila seluruh riwayat menggunakan redaksi yang sarih (pasti) tetapi kualitas salah satunya tidak shalih. Misalnya dua asbabun nuzul yang kontra diktif yang berkaiyan dengan turunnya ayat
والضحي واليل اد سجي ما ودعك ربك وما قلئ (الضحى
Artinya:
” Demi waktu matahari sepenggal naik dan demi malam apabi;a ysunyi . tuhan mu tidak meninggalkan kamu tidak pula membencimu.( Q.S adh dhuha :1-3)
Versi pertama diriwayat kan oleh bukhari dan muslim dari jundab mengatakan:
اشتكى رسولله صلى الله عليه وسلم فلم يكم لياتين اوثلا ثا فجاءت امرءة فقالت: يا محمد اني لاارجو ان يكون شيطانك قد تركت امراة قريبك ليلتين او ثلاثة فانرل الله عر وجل: والضحي واليل اد سجي ما ودعك ربك وما قلئ
Artinya:
“Rasulullah menderita sakit sehingga tidak mendirikan shalat selama dua atau tiga malam , lalu datanglah kepadanya seorang wanita lalu berkata , Ya Muhammad, sesungguhnya saya berharap setan telah meninggalkanmu karena saya tidak melihat dekat denganmu selama sua atau tiga malam maka turnlah ayat “–(adh Dhuha (93) : 1-3)
Versi kedua diriwayatkan oleh ath- thabrani dan ibnu abi syaiban dari hafsah bin maisarah , dari ibunnya, dari nenknya (khadam rasulullah) mengatakan:
ان جرودا دخل بيت بيت النبى ص م فدخل تحت السرير فمات فمكث النبى ص م اربعة ايام لم بنرل عليه الوحي فقال يا خولة ما حدث في بيت الرسول ت الله ص م ؟ حبريل ما يا تي ! فقات في نفسي : او هياءت البيت وكنسته فاهويت بالمكنسة تحت السلرير فاخرحت الجرو فجاء تانبي ص م ترعد لحيته وكان ادا انرل عليه اخدته الرعدة فانرل الله (والضحى) الي قوله (فترضي)
Artinya:
“ Seekor anaka anjing masuk kedalam rumah rasulullah dan bersmbunyi dibaewah tempat tidurnya sampai mati oleh karena itu selama empat hari rasulullah tidak menerima wahyu nabi berkata: wahai khaulah apa yang telah terjadi dirumah rasullulah ? (sehingga) jibril tidak datang kepadaku maka akupun (khaulah) berkata ‘ “alangkah baiknya baikny a jka kuperiksa langsugn keadaannnya dan menyapu lantainya . aku memasukkan sapu kebawaj tempat tidur dan mengeluarkan bangkai anjing darinya, nagi kemudian datang dalam keadaan dagu geetar, oleh karena itu ketika menerima wahyu dagu nabi selalu bergetar . maka Allah menurunkan surat Adh duha (93): 1-3.
Studi kritik pada versi kedua adalah menempatkan status riwayatnya pada kualitas pada tidak sahih . dalam halini ibnu hajar mengatakan bahwa kisah keterlambatan malaikat jibril menyampaikan wahyu kepada nabi karena anak anjing memang mashur, tetapi keberadaannya sebagai asbabun nuzul adalah asing (gharib) dan sanadnya ada yang tidak dikenal, oleh karena itu harus diambil riwayat lain yang sahih.
Adapun terhadap variasi asbabun nuzul dalam satu ayat, versi berkualitas para ulama mengemukakan langkah-langkah sebagai berikut:
a)Mengambil versi riwayat yang sahih.
Cara ini diambil bila terdapat dua versi riwayat asbabun nuzul satu ayat, satu versi berkualitas sahih, sedangkan yang lainnya tidak misalnya dua versi riwayat sababun nuzul kontra diktif untuk surat adh Dhuha [93] ayat 1-3.
b)Melakukan studi selektif (tarjih)
Langkah ini diambil,bila kedua versi asbabun nuzul yang berbeda-beda itu kualitasnya sama-sama sahih. Seperti asbabun nuzul yang berkaitan dengan roh . Versi asbabun nuzul yang dikeluarkan Imam Bukhari dari Ibnu Mas’ud mengatakan:
Artinya:
كنت امشى مع النبي ص.م. باالمدينة وهو يتوكأ علي عسيب فمر بنفر من اليهودي, فقال بعضهم : لو سألتموه. فقالوا: حدثنا عن الروح. فقام ساعة ورفع رأسه فعرفت انه يوحى اليه حتى صعدالوحى ثم قال :( قل الروح من امر ربي وما اوتيتم من العلم الا قليلا)
“ Aku berjalan bersama rasulullah dimadinah, dalam keadaan beliau bertekan pada pelepah kurma, beliau kemudian melewati sekelompok orang yahudi sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain alangkah baiknya bila kalian menanyakan sesuatu kepada (Muhammad),” karena itu mereka berkata ,”Ya Muhammad terangkan kepada kami tentang roh ‘. Nabi berdiri sejenak sambil mengangkat kepala. (saat itu pun ) aku tahu ternyata beliau pun membacanya katakanlah permasalahan roh adalah sebagian dari urusan tuhanku dan tidak diberikan kepada kamu kecuali sedikit saja.”
Versi yang dikeluarkan imam bukhari dari tirnidzi dari ibnu abbas mengatakan:
قلت قريش لليهودي :أعطني شيأ نسأل عنه هدا الرجول, ف قالوا اسءلوه عن الروح ,فسأ لوه فانرل الله (ويسئلونك عن الروح قل الروح من امر ربي وما اوتيتم من العلم الا قليلا

Artinya:
“ Orang-orang Qurais berkata kepada orng Yahudi berikan kepada kami tentang sesuatu yang akan ditanyakan kepada laki-laki ini(Nabi) mereka menjawab bertanyalah kepadanya tentang roh .’maka merekapun bertanya tentangnya kepada nabi maka allah menurunkan : Wa yasalunaka ‘an ar ruh-”
Riwayat yang dikeluarkan oleh bukhari dari tirmmidzi keduanya bersetatus sahih akan tetapi mayoritas ulama lebih mendahulukan hadis bukhari dari pada tirmidzi karena hadis bukahari lebih unggul (tarjih) sedangkan hadis tirmidzi tidak unggul (marjuh). Alasannya karena ibnu mas’ud menyaksikan sendiri kejadiannya sedangkan ibn abbas mendengarkan dari orang lain “ studi tarjih memandang bahwa riwayat imam bukhari lebih sahih dari pada riwayat tirmidzi karena ibn mas’ud menghadiri langsung kejadiannya.”
3. Melakuakan studi kompromi (jama’)
Langkah ini diambil bila kedua riwayat mempunyai status kesahihan hadis yang sederajat dan tidak mungkin dilakukan tarjih. Misalnya asbabun nuzul yang melatar nelakangi turunnya ayat mu’amalah surat An- Nur [24] ayat 6 dalam versi imam bukhari dan muslim melalui jalur sahal ibn sa’ad dikatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan salaha seorang sahabat yang bernama uwaimir kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan seorang suami yang mendapati istrinya berzina, akan tetapi dalam versi imambukhari dari jalur ibn abbas dikatakan bahwa ayat tersebut turun dengan dilator belakangi kasus hilal ibn umayyah yang menuduh istrinya berzina didepan rasul dengan sarikh ibn sahma’. Kedua riwayat itu benar-benar berkualitas sahih dan tidak mungkin dilakukan studi tarjih diantara keduanya oleh karena itu perlu dilakukan studi komperomi (jama’) dua kejadian itu berdekatan masanya maka mudah untuk mengkompromikan keduanya, dalam jangka waktu yang tidak lama kedua sahabat itu bertanya kepada Rasulullah tentang masalah serupa maka turunlah ayat mu’amalah yang menjawab kedua masalah sahabat itu. Dalam masalah ini al khatib berkata : kedua penanya kebetulan bertanya dalam satu waktu.
Kalau kedua versi riwayat Asbab An-Nuzul dianggap sahih atau tidak sahih atau tidak bias dilakukan studi tarjih dan jama’ maka hendaklah kita anggap ayat itu diturunkan berulang kali. Dalam istilah ilmu Al Qur’an bias fisebut(ta’addud an- Nuzul) sebagai contoh adalah dua versi Asbab An-Nuzul yang melatar belakangi turunnya surat al ikhlas. Satu riwyata mengatakan bahwa surat itu untuk menjawab pertananyaan kaum musrikin mekah riwayat lain mengatakan surat ini muncul untuk menjawabkelompok ahli kitab di Madinah. Karena kedua riwayat sahih dan tidak mungkin dilakuakan studi tarjih dan jama’ maka harus dianggap ayat itu turun dua kali.




b. Variasi ayat untuk satu sebab (ta’addud nazil wa asbab al wahid)
terkadang satu kejadian menjadi penyebab turubya dua ayat atau lebih hal ii dalam ululmul qur’an dikenal dengan istilah “ ta’adudd nazil wa assabab al-wahid” (terbilang ayat yang tturun sedangkan ayat yang turun satu) contoh satu kejadian yang membuat dua aayat diturunkan sedang antara satu dengan yang lainnya berselang lama adalah riwayat asbab annuzul yang yang diriwayatkan Ibn Jarir Ath-Thabari , dan Ibn Mrdawiyah dari Ibn Abbas :
كان رسول الله ص.م. جا لسا في ظلى شجرة,فقال : انه سيأتيكم انسان ينظر بعيني الشيطان فادا جاء فلا تكلموه فلم يلبث أن اطلع رجل أزرق العينين فداعا رسول الله ص.م. علام تشتموني انت واصحابك فانطلق الرجول فجاء لأصحابه فحلفوا با الله ما قلوا حتى تجا وزعنهم فأنزل الله :يحلفون با الله ما قا لوا كلمة الكفر وكفروا بعد اسلامهم وهموا بما لم ينالوا وما نقمو ا الا ان اغناهم الله ورسوله من فضله فان يتوبوا يك خيرا لهم وان يتولوا يعدبهم الله عدابا أليما في الدنيا والاخرة وما لهم في الأرض من ولي ولا نصير
Artinya “ Ketika rasulullah duduk dibawah naungan pohon kayu beliau bersabda akan datang kamu seorang manusia yang memandang dengan mu dengan dua mata setan janganlah kalian ajak bicara jika ia datang menemuaimu, tidak lama sesudah itu datanglah seorang lelaki ayng bermata biru rasulullah kemudaian memanggilnya dan bertanya mengapa engkau dan teman-temanmu memakiku,? Orang tersebut pergi dan datang kemmbali besertateman-temannya mereka cersumpah dengan nama alaah bahwa mereka tidak menghina nabi, terus menerus mereka mengatakan demikian sampai nabi mema’afkannya maka turunlah surat at taubah [9] ayat 74 (merka orang-orang munafik bersumpah dengan nama allah bahwa nereka tidak mengatakan sesuatu yang menyakitimu sesumgguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah mejadi kafir sesudah islam dan mengimani apa yang tida dapat meraka tidak dapat mencapainya dan mereka tidak mencela kepada allah dan rasulnya kecuali karena allah dan rasulnya te;ah melimpahkan karunia- Nya kepada mereka maka jika mereka bertaubat maka itu lebih baik bagi nereka jika meraka berpaling maka allah akan mengzab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat dan mereka sekalikali tidak mempunyai pelindung dan penolong di muka bumi.”
Demikin pula riwayat al hakim dengan redaksi yang sama dan mengatakan maka allah menurunkan surat al mujadalah [58] ayat 18-19.”

0 komentar: