Search

Selasa, 24 November 2009

Diposting oleh santri kuliah

BAB III
KEDUDUKAN SUNNAH KEWAJIBAN SUNNAH DAN METODE MEMAHAMINYA

A.KEDUDUKAN SUNNAH DALAM ISLAM
Sunnah adalah tafsir aplikatif (at-tafsir al-‘amali) terhadap al qur’an dan implementasi ajaran islam secara faktual dan ideal nabi muhammad saw adalah penafsir al qur’an dan perwujudan al qur’an. Makna inilah yang ditangkap ole h ummul mukminin Aisyah r.a melalui pemahamanyang mendalm dan pergaulan bersama Rasulullah SAW. Hal iitu ddisampaikan dalam ungkpan yang indah dan mendalam ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah SAW. Ia berkata:
كان خلقه القران
Artinya:
“Akhlak beliau adalah Al Qur’an.”
Denngan demikian siapa ingin mengetahui metoode aplikatif terhadap islam berikut karak teristik dan dasar-dasarnya, ia dapat mengetahui secara rinci dalam sunnah nabi, baik ucapan perbuatan maupun persetujuan Nabi SAW.

B.SUNNAH MERUPAKAN SEBUAH METODE
1.Metode yang komprehensif
Artinya mencakup semua kehidupan manusia baik vertikal (sejak lahir sampai meninggal) maupun horizontal yang meliputi semua dimensi kehidupan manusia dimana petunjuk nabi (sunnah) mengatur didalam semua hubungan sosial.maupun aspek kedalamannya mencakup nilai lahir dan batinnya jasad, akal, roh, ucapan, perbuatan, dan niat).
2.Metode yang seimbang (tawazun)
Metode yang seimbang artinya keseimbangan antara jasmani dan rohani, dunia dan akhirat akal dan hatiidealitas serta realitas, cita-cita dan relita teori dan aplikasi ghaib dan yang tampak kebebasan dan tanggung jawab individu dan kelompok sikap mengikuti (ittiba’) dan mengada- ada (ibtida’).
Oleh karena itu keika ada kecenderungan dari sahabatnya kearah yang jelek, Nabi segera mengembalikan mereka pada sikap yang moderat, sambil mengingatkan akan bahaya sikap ekstrimis dan sembrono.
Nabi tidak senag kepada 3 sahabat yang menanyakan ibadah beliau dan menganggap kecil ibadah mereka sendiri dan belum puas dengan hasratnya yang kuat dalam beribadah. Salah seorang diantaranya ingi berpuasa setahun penuh tanpa berbuka, yang lain hendak salat malam tanpa tidur yang ketiga menjauhi wanita dan tidak akan menikah ketika maksud mereka diketahui beliau, Nabi SAW bersabda:
اما والله اني لاخشاكم لله واتقكم له ولكني اقوم وانام واصوم وارقد واتزوج النساء فمن رغب عن سنتي فليس مني (رواه البخاري)

Artinya:
“Demi allah aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada allah diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa berbuka, aku bangun malam dan tidur, akupun menikahi wanita. Barang siapa membenci sunnahku ia tidak termasuk bagian (ummat) ku”

3. Metode yang memudahkan
Artinya adalah dengan menggunakan metode yang mudah dan toleran
وما ارسلنا ك الا رحمة للعا لمين (الانبياء:107 )
Artinya:
“Artinya dan tidaklah kami utus engkau kecuali sebagai rahmat atas semua alam semesta.”
(Q.S. Al Anbiya [21]: 107)
Ketika mengutus Abu Musa dan Muadz Bin Jabal keYaman kepada keduanya nabi berpesan
Artinya permudah jangan mempersulit gembirakanlha jangan menakut nakuti berasatulah dan jangan berselisih.

Mengenai misi rasulnya beliau berkata:
اني بعثت بحنفيىة سمحة
Artinya:
“Aku diutus dengan ajaran yang lurus dan toleran.”

C.KEWAJIBAN MUSLIM ATAS SUNNAH
Diantara kewajiban muslim adalah emngetahui metode-metode yang terperinci dengan karakteristiknya yang komperhensif, sempurna, seimbang, dan mudah, serta kandungannya yang terdiri dari dimensi ketuhanan kemanusiaan dan moralitas dan memahami serta mempraktekannya.
Krisis pokok umat islam saat ini adalah krisis pemikiran yang menurut saya lebih dahulu dari pada krisis hati krisis pemikiran yang paling tampak adalah krisis pemikiran memahamidan berinteraksi dengan sunnah.




D.PERINGATAN TERHADAP TIGA BENCANA
Diriwayatkan dari rasulullah mengenai kemungkinan menegnai ilmu kenabian dan warisan kerasulan akan berada pada tangan – tangan orang ekstrim (ghulat) , orang –orang batil Ibnu Jarir Tamim meriwayatkan dalam fawaidnya, ibnu adi dan lain-lain, bahwa nabi bersabda “ ilmu itu akan dibawa dan dipelihara oleh orang –orang yang adil pada setiap generasi mereka akan membersihkannya dari penyimapanaga kaum ekstrim, pemalsuan kaum sesat, dan penakwilan kaum jahil.”
1.Penyimpangan kaum ekstrim
penyimpangan tyang dilakukan melalui pintu ekstrimitas dan sikap berlebihan adalah menghindari sikap-sikap moderat yang menjadi cirikahas agam ini, prinsip toleran yang menjadi sifat agam yang lurus ini, dan prinsip pemudahan yang menjadi ciri pembebanan dalam sdyariat ini.
Sikap ekstrimitas adalah yang telah menghancurkan ahli kita sebelum kita yakni mereka yang bersikap ekstrim dalam keyakinan wadah dan prilaku.
Al qur’an dan hadis mengabadikan mereka dalam firmanNya:
قل يا ايه اهل الكتاب لاتغلوافي دينيكم غير الحق ولا تتبعوا اهواءقوم قد ضلو من قبل وااضلوا كثير واضلو اعن سوالسبيل (المائدة:77)
“ Katakanlah hai ahli kitab , jangan kalian berlebih-lebihan(melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agam kalian, dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang orang yang telahn sesat sejak dahuludan meraeka telah menyesatkanbanyak (orang), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus .”(Q.S. Al Maidah :77)
2.Manipulasi orang-orang batil
adalagi manipulasi orang-orang batil untuk menyusupkan untuk memasukkan sesuatau yang asing kepada sunnah Nabi , menyusupakan kedalamnya hal-hal baru da bid’ah yang bertentangna dengan watak sunnah yang diolak oleh akidah dan syariat ketika mereka tidak mampu menyusupkan sesuatu kepad al qur’an yang terpelihara dengan hapalan dan mushaf.
Namun orang –orang cerdas dan para penghapal sunnah dikalangan umat ini berusaha menutupi setiap celah, dan mereka hanya menerima hadis yang telah terpenuhi syarat-syaratnya.
Ketelitiuan dalam pencarian isnaddengan syarat dan ketentuan adalah karakteristik uamat islam, mereka telah mampu melampaui peradaban modern sekarang dalam meletakkan dasar-dasar metode ilmiah dfalam sejarah.
3.Penakwilan orng-orang bodoh
terdapat penakwilan yang keliru yang membuat cacat hakikat islam, mengubah kalimah-kalimah Allah mengurangi keutuhan islam sehingga menjadikan hukum dan ajarannya bertentangan dengan sumbernya inilah ciri oarang yang tidak mengetahui islam, yang tidak mampu menangkap esensi islam karena mereka tidak memiliki kedalaman pengetahuan ataupun kegigihan dalam mencari kebenaran.
Takwil kelirulah yang menyebabkan banyak aliran dan sekte menjadi celaka misalnya Qodriyah, murji’ah khawarij, mu’tazilahdan berbagai kelompok lainnya.

E. PRINSIP-PRINSIP DASAR BERINTERAKSRI DENGAN SUNNAH
agar terhindar dari penyimpangan orang ekstrim manipulasi orang-orang batil dan penakwilan orang bodoh.,dalam berinteraksi dengan sunnah nabi seharusnya memahami prinsip dasar dalam masalah itu
pertama, meneliti kesasihan sunnah dan merujuk pendapat para pakar dibidang ini.
ولاينبؤك مثل خبير (الفاطر:14)
Artinya :
“Dan tidaklah ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh yang mengetahuinay(ahlinya)
(Q.S. AL FATIR [35]:14)
Kedua, memahami hadis dengan baik seiring dengan kebahasaannya , konteks hadis latar belakang pengucapan hadis nabi (sabab wurud) konteks al qur’an dan hadis nabi yan mengandung hukum (tasyri’) yang umum dan permanen ( dawam) dan khusus temporal (ta’qid) sebab mencampur kedua hal diatas merupakan kekeliruan yang paling parah dalam memahami sunnah.
Ketiga, memastikan bahwa teks hadis tidak bertentangan denga dalil yang lebih kuat baik alqur’an , hadis yang jmalah rawinya lebih kuat atau lebih sahih kwalitasnya atau ebih sesuai denga prinsip
F. SUNNAH YANG DAPAT DIJADIKAN RUJUKAN PENETAPAN HUKUM
Ilmu hadis menjelaskan hadis yang dijadikan disandaran harus berkualitas sahih atau hasan, istilah sahih mirip dengan yudisium istimewa atau baik sekali sedang hasan mirip dengan yudisium baik atau cukup dalam nilaiakdemik,
Terutama dalam penetapan hukum syari’at,namumn mereka berbeda pendapat tentang haduis yang berkaitang dengan keutamaan amal ( fadhailul amal;) zikir ugngkapan yang menggugah (raqaiq) anjuranm dan ancaman ( trgib wa tarhib) dan lain sebaginya.diantaranya ada yang bersifat longgar dalam mensyaratkannyan, namun hal ini tidakl;ah berlaku mutlak masih perlu ditinjau dulu dalam bidang apa hadis ituberbicara.




G. MENOLAK HADIS SAHIH SAMA DENGAN MENERIMA HADIS PALSU
Menolak hadis sahih karena dorongan nafsu dan sombong merupakan kekeliruan,menerima hadis palsu berarti memasukan sesuatu yang bukan agam kedalam agam adapun menolak hadis sahih sama dengan mengeluarkan sesuatu yang merupakan bagian dari agamakeduanya merupan tercela dan harus ditolak.
Mungkina ahli bid’ah menolak hadis karena alasan hadis tersebuta hanya memberi makna persangkaan (zhan) padahal al qur’an mengecam hal iniseperti dalam firman Allah:
ان يتبعون الا الضن وما تهوى انفس (النجم:23)
Artinya:
“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan –sangkaan dan apa yang diingini hawa nafsu mereka.” (Q.S.An Najm:23)
Persangkaan menurut penulis (Dr. Yusuf Qardawi) dapat dibagi menjadi tiga:
Pertma, persangkaan pada pokok agam (usul “ad-din) hal ini tidak dapat diterima oleh para ulama, jika masalah furu’ (cabang agam) para ahli membolehkan persangkaan dalam hal ini.
Kedua, persangkaan dalam arti mengautkan salah satu dari kedua hal yang bertentangan yang tidak ditemukan dalil yang mnenguatkan salah satunya hal ini tercela karena termasuk tindakan menuruti hawa nafsu.
Ketiga persangakaan macam ketiga dibagi dua pertama persangkaan yang bersandar pada sumber yang pasti (qathi) itulah persangkaan yang dipakai pengguannaanya dalam syari’at setiap dibutuhkan, yang kedua, tidak bersandar pada dasar yang pasti adakalnya tidak bersandar sama sekali pada dalil inilah prasangka yang tercela.
H. MENOLAK HADIS SAHIH KARENA PEMHAMAN YANG KELIRU
Sebagian orang membeca hadis dengan tergesa-gesa lalu berkesimpulan bahwa hadis situ tidak dapat diterima, seandainya mereka mau merenungkan dan meneliti niscaya akan diketahui hadis tersbut tidak seperti yang diketahuidengan tergesa-gesa
contohnya hadis tentang pemabruan agam
ان الله يبعث لهده الا مة على ركل ما ئة سنة من يجدد لها دينها
artinya: “Sesungguhnya allh akan mengutus kepada umat ini pada awal setiap 100 tahun orang yang akan memperbahrui agam mereka.”
Kata pembaharuan ( tajdud) pada hadis diatas dipahami secara keliru dengan makna pengembangan dan perubahan terhadam ajara agam agar sesuai zaman yang seharusnya perkembangan zaman disesuaikan dengan agama, karen agam tidak dapat diperbaharui karena bersifat tetap dan tidak berubah.
Pembaharuan diatas maksudnya mengembalikan seperti semula ketika muncul atau tumbuh pertama kali sehingga tampak baru meskipun sudah lama dengan cara memperbahrui yang rusak.
I. TIDAK MENOLAK HADIS SAHIH YANG SULIT
Bersikap tergesa-gesa dalam memahami hadis yang sulit dipaki padahal ia sahih itu keliru, dan tidak pernah dilakukan oleh orang yang mendalam ilmunya.
Dalam hal ini Mu’tazilah dan Ahlusunnah berebeda pandangan Mu’tazilah segera menolak hadis hdis yang yang sulit yang bertentangan dengan prinsip mereka baik yang ilmiah maupun yang teologis.
Sementara Ahlusunnah berusaha memberikan menakwilan , mensinkronkan, dan menyelaraskan hadis yang hakikatnya bertentangan dalam hal ini iama abu muhammad ibn qutaibah menulis ta’wil mukhtalaf al hadis sebagai sanggahan terhadap pandangan- pandanga kaum mu’tazilahterhadap hadis yang menurut mereka bertentangan dengan al qur’an.

0 komentar: